Jumat, 01 Januari 2016

Inikah Indonesia?

Jember 13 november 2015
        


        Pagi ini terasa sejuk nan damai sekali, burung berkicau kesana kemari, mendung menyelimuti kota dimana aku berpijak kini, gedung-gedung tinggi, pegunungan, pengguna transportasi, pejalan kaki hingga sepasang sejoli yang sedang lari pagi terlihat dari lantai tertinggi asrama putri universitas negeri jember dimana aku berdiri saat ini.

        Keadaan seperti ini lah yang ku nanti-nanti dimana aku bisa menyendiri menikmati ciptaan Tuhanku yang maha abadi. Ya, menikmatinya tanpa ada tugas kuliah yang menghampiri dan beban-beban lain yang menggerogoti. Hati tak henti komat-kamit mengucap puji tertanda mensyukuri karunia zat yang maha mengasihi. Ah, aku teringat pada agenda sebulan lalu, dimana rasa syukur serupa seperti ini kurasa ketika sedang berbagi tempat dan waktu bersama adik-adik MI Anjasmara yg letaknya di puncak gunung Anjasmara Wonosalam Jombang. Perasaan sedih, senang, terharu campur aduk menjadi satu. Aku yang kebetulan ditemani partner ku, Mas yahya, ditugasi mengajar kelas 6 yang jumlahnya hanya 8 siswa. Yang membuatku tercengang adalah disini siswa kelas 6 SD belum mampu menulis secara baik, belum mampu menerjemahkan angka 1-20 ke dalam bahasa inggris, belum mampu berbahasa inggris A-Z, miris bukan? Padahal sebentar lagi Indonesia memasuki masyarakat ekonomi Asia. 

        Faktanya memang banyak yg perlu diperbaiki disini, mulai dari bangunan sekolah yg jauh dari kata layak (MI, MTs, Aliyah satu atap sehingga proses belajar mengajarnya bergantian), seluruh guru berstatus sebagai guru honorer, SDM masih tergolong rendah, ada beberapa siswa yg setelah pulang sekolah harus mencari rumput untuk membantu ayahnya sehingga waktu bermain mereka tersita, dan yang lebih mengagetkan ketika kelas 6 ditanya tentang cita-citanya, mereka menjawab tidak punya cita-cita. Seakan-akan mereka tidak berani untuk bercita-cita. Apakah hanya karena biaya, mereka yang lemah seolah tak berhak becita-cita? Inikah indonesia?

        Karena penasaran, aku mencoba mengantar salah satu siswa pulang kerumahnya, medan menuju rumah siswa tersebut agak ekstrim, banyak tanjakan dan turunan, melewati jalan setapak yg didampingi jurang. Setelah sampai rumahnya aku bertemu neneknya dan lalu sedikit bercengkrama.  Orangtua dari siswa tersebut merantau sudah 6 tahun tidak pulang ataupun memberi kabar sementara kakeknya meninggal beberapa bulan lalu sehingga neneklah yg menghidupi siswa tersebut  bersama 3 saudaranya dengan menjadi seorang tukang pijat. aku mencoba bertanya kepada neneknya, setelah lulus SD siswa ini ingin melanjutkan kemana? Nenek berkata bila tidak ada uang, siswa tersebut terpaksa tidak melanjutkan sekolah. 

        Aku lelah dan seketika tak punya daya, tapi aku jauh lebih lelah ketika adik-adik disini tidak diperhatikan oleh pemerintah. Adik-adik ini juga tunas bangsa yang harusnya diberi fasilitas setara dengan sekolah-sekolah di kota. Mereka juga punya cita-cita layaknya anak pada umumnya. Dan kalian, barisan siswa yg sekolah dikota dan mendapat fasilitas lengkap maupun penghidupan yg layak, Maka nikmat TuhanMu yg mana yg kamu dustakan?

Merajut Hujan Tanpa Pelangi

Tak ada yang lebih getir dari melukis hujan yang bersaing dengan petir untuk merebut takdir.   Pelangi yang di nanti juga tak kunjung hadi...