Jember 13 november 2015
Pagi ini terasa
sejuk nan damai sekali, burung berkicau kesana kemari, mendung
menyelimuti kota dimana aku berpijak kini, gedung-gedung tinggi,
pegunungan, pengguna transportasi, pejalan kaki hingga sepasang sejoli
yang sedang lari pagi terlihat dari lantai tertinggi asrama putri
universitas negeri jember dimana aku berdiri saat ini.
Keadaan
seperti ini lah yang ku nanti-nanti dimana aku bisa menyendiri
menikmati ciptaan Tuhanku yang maha abadi. Ya, menikmatinya tanpa ada
tugas kuliah yang menghampiri dan beban-beban lain yang menggerogoti.
Hati tak henti komat-kamit mengucap puji tertanda mensyukuri
karunia zat yang maha mengasihi. Ah, aku
teringat pada agenda sebulan lalu, dimana rasa syukur serupa seperti
ini kurasa ketika sedang berbagi tempat dan waktu bersama adik-adik MI
Anjasmara yg letaknya di puncak gunung Anjasmara Wonosalam Jombang.
Perasaan sedih, senang, terharu campur aduk menjadi satu. Aku yang
kebetulan ditemani partner ku, Mas yahya, ditugasi mengajar kelas 6 yang
jumlahnya hanya 8 siswa. Yang membuatku
tercengang adalah disini siswa kelas 6 SD belum mampu menulis secara baik,
belum mampu menerjemahkan angka 1-20 ke dalam bahasa inggris, belum
mampu berbahasa inggris A-Z, miris bukan? Padahal sebentar lagi
Indonesia memasuki masyarakat ekonomi Asia.
Faktanya
memang banyak yg perlu diperbaiki disini, mulai dari bangunan sekolah
yg jauh dari kata layak (MI, MTs, Aliyah satu atap sehingga proses
belajar mengajarnya bergantian), seluruh guru berstatus sebagai guru
honorer, SDM masih tergolong rendah, ada beberapa siswa yg setelah
pulang sekolah harus mencari rumput untuk membantu ayahnya sehingga
waktu bermain mereka tersita, dan yang lebih mengagetkan ketika kelas 6 ditanya tentang cita-citanya, mereka menjawab tidak punya cita-cita. Seakan-akan mereka tidak berani untuk bercita-cita. Apakah hanya karena
biaya, mereka yang lemah seolah tak berhak becita-cita? Inikah indonesia?
Karena penasaran, aku
mencoba mengantar salah satu siswa pulang kerumahnya,
medan menuju rumah siswa tersebut agak ekstrim, banyak tanjakan dan turunan,
melewati jalan setapak yg didampingi jurang. Setelah sampai rumahnya aku
bertemu neneknya dan lalu sedikit bercengkrama. Orangtua dari siswa tersebut merantau sudah 6 tahun tidak pulang ataupun memberi kabar sementara kakeknya meninggal beberapa bulan lalu sehingga neneklah yg menghidupi siswa tersebut bersama 3 saudaranya dengan menjadi seorang tukang pijat. aku mencoba
bertanya kepada neneknya, setelah lulus SD siswa ini ingin melanjutkan
kemana? Nenek berkata bila tidak ada uang, siswa tersebut terpaksa tidak
melanjutkan sekolah.
Aku lelah dan seketika tak
punya daya, tapi aku jauh lebih lelah ketika adik-adik disini tidak
diperhatikan oleh pemerintah. Adik-adik ini juga tunas bangsa yang harusnya
diberi fasilitas setara dengan sekolah-sekolah di kota. Mereka juga
punya cita-cita layaknya anak pada umumnya. Dan
kalian, barisan siswa yg sekolah dikota dan mendapat fasilitas lengkap
maupun penghidupan yg layak, Maka nikmat TuhanMu yg mana yg kamu
dustakan?
