Senin, 21 Januari 2019

Merajut Hujan Tanpa Pelangi


Tak ada yang lebih getir dari melukis hujan yang bersaing dengan petir untuk merebut takdir.  Pelangi yang di nanti juga tak kunjung hadir, yang ada hanya senja yang nampak malu-malu di balik gelapnya mendung di angkasa seolah menyiratkan semburat indah warna jingganya. Dan seiring kepergian senja, rindu ini kembali mengoyak dada. Rindu yang selalu ku titipkan di sela-sela hujan, tapi tak pernah tersampaikan hingga rindu itu tenggelam bersama genangan.

Dalam gigil, namamu masih ku panggil. Adakah disana kau ingat aku juga? Lalu rasakan desau angin yang hilang bersama rahasia, hingga awan di angkasa dan sukma mentari nyaris tenggelam tapi kau tetap saja diam seolah bagimu hujan tak berarti apa-apa, kecuali hanya basah. Sedang senyummu masih membuatku jatuh, tanpa perlu tersandung terlebih dahulu.

Aneh, aku selalu terlena pada hujan dan aromanya, lalu ingin berteduh pada sepasang matamu yang indah itu, lebih-lebih bisa menyelinap di hatimu dan mengukir sajak lirih meski tak seindah syair Jalaludin Rumi. Kau ingin mendengar laguku? Petiklah hujan, dan rasakan senandung merdu yang hanya bisa didengar oleh mereka yang sedang merindu.

Cintaku setabah hujan di malam ini, hujan dibulan Januari. Yang jatuh meski tak menjanjikan pelangi. Kadang aku iri pada rembulan yang selalu kau rindu meski ia dalam keadaan penuh atau separuh.

Hujan pasti akan berhenti. Pun dengan rasa ini, harapku juga akan mati. Kau tak bisa ku dapat maka aku harus berhenti berharap. Dan kau hanya akan jadi kenangan paling keras kepala yang bertahun-tahun terkebiri dalam hati dengan kadar paling tinggi tanpa tertandingi. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Merajut Hujan Tanpa Pelangi

Tak ada yang lebih getir dari melukis hujan yang bersaing dengan petir untuk merebut takdir.   Pelangi yang di nanti juga tak kunjung hadi...