Kamis, 10 Januari 2019

Gadis Pemetik Gerimis


Tepat dari dalam kamar, aku mendengar suara hujan ditemani hembusan angin yang meliuk-liuk diluar. Manis sekali Tuhan menciptakan hujan sebagai penyejuk yang memberikan kesegaran.  Aku memang mencintai hujan. Aku menikmati setiap butir air yang jatuh sebagai keindahan. Tidak hanya air yang menggenang, tetapi aku juga hanyut dalam kenangan, kenangan tentang seseorang dan juga kehilangan.  Mereka beradu menjadi satu seolah menari-nari dipikiranku dan  aku tak senang dengan itu.

Sama halnya dengan hujan, dirimu juga memberi kesejukan. Pesonamu membasahi tiap bagian hatiku yang kekeringan hingga ambisiku memilikimu tak tertahankan. Sungguh, ini menyakitkan. Dirimu begitu menawan, hingga membuatku selalu terpikirkan. Tak henti-henti aku membangun imajinasi tentangmu hingga membuatku tersadar, kau adalah keajaiban.

Apa kau tahu Tuan? Dirimu masih menjelma puisi yang masih terus aku puisikan, kau menjelma bait yang selalu ingin ku tuliskan, kau tetap inspirasi yang terus aku gambarkan lewat diksi dan imaji. Kau seperti gugusan bintang yang terangi kegelapan, kau membuat kesunyian malamku menjadi terang. Lebih dari itu, kau juga membuat sajak-sajak yang ku tuliskan menjadi bertuan.

Diam-diam aku berbisik pada Tuhan agar engkau tahu apa yang ku rasakan. Rasanya tak sanggup mengutarakan hingga aku memilih mencintaimu dalam diam. Tetapi Istana hatiku masih menganggapmu sebagai Tuan. Entah, hingga berapa musim lagi aku bisa bertahan. Dan mungkinkah aku di inginkan?

Bodoh sekali aku ini, mana mungkin Tuan mempunyai perasaan yang sama? Aku hanya gadis pemetik gerimis yang mendamba samudra. Dari titik-titik gerimis yang ku punya aku berharap mencipta riuh gelombang di hamparan samudranya, arungi badai bersama, hingga kita menemukan dermaga.

Mana mungkin kita bisa bersama? Kita berbeda, aku hanya gerimis dan kau samudra. Tetapi Tuan, kau perlu tahu jika aku mencintaimu meski aku mulai berjalan menjauh. Menjauh adalah satu-satunya jalan agar aku tak bisa menyakiti dan melukaimu. Percayalah Tuan, Aku masih cemburu pada kapal dan perahu yang bebas mengarungi samudramu. Aku cemburu pada karang yang selalu ada didekatmu. Aku cemburu pada angin yang tak henti meliuk-liuk di atasmu.

Aku tetap mencinta sekalipun kau dengannya. Aku tetap menjadi rintikan gerimis yang akan membantumu mencipta indahnya gelombang di samudra. Aku tetap bersamamu sekalipun aku tak ada.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Merajut Hujan Tanpa Pelangi

Tak ada yang lebih getir dari melukis hujan yang bersaing dengan petir untuk merebut takdir.   Pelangi yang di nanti juga tak kunjung hadi...