Tepat
dari dalam kamar, aku mendengar suara hujan ditemani hembusan angin yang meliuk-liuk diluar. Manis sekali Tuhan menciptakan hujan sebagai penyejuk yang memberikan
kesegaran. Aku memang mencintai hujan.
Aku menikmati setiap butir air yang jatuh sebagai keindahan. Tidak hanya air
yang menggenang, tetapi aku juga hanyut dalam kenangan, kenangan tentang
seseorang dan juga kehilangan. Mereka
beradu menjadi satu seolah menari-nari dipikiranku dan aku tak senang dengan itu.
Sama
halnya dengan hujan, dirimu juga memberi kesejukan. Pesonamu membasahi tiap
bagian hatiku yang kekeringan hingga ambisiku memilikimu tak tertahankan. Sungguh,
ini menyakitkan. Dirimu begitu menawan, hingga membuatku selalu terpikirkan. Tak
henti-henti aku membangun imajinasi tentangmu hingga membuatku tersadar, kau
adalah keajaiban.
Apa kau
tahu Tuan? Dirimu masih menjelma puisi yang masih terus aku puisikan, kau menjelma
bait yang selalu ingin ku tuliskan, kau tetap inspirasi yang terus aku
gambarkan lewat diksi dan imaji. Kau seperti gugusan bintang yang terangi
kegelapan, kau membuat kesunyian malamku menjadi terang. Lebih dari itu, kau juga
membuat sajak-sajak yang ku tuliskan menjadi bertuan.
Diam-diam
aku berbisik pada Tuhan agar engkau tahu apa yang ku rasakan. Rasanya tak
sanggup mengutarakan hingga aku memilih mencintaimu dalam diam. Tetapi Istana hatiku
masih menganggapmu sebagai Tuan. Entah, hingga berapa musim lagi aku bisa bertahan.
Dan mungkinkah aku di inginkan?
Bodoh sekali
aku ini, mana mungkin Tuan mempunyai perasaan yang sama? Aku hanya gadis
pemetik gerimis yang mendamba samudra. Dari titik-titik gerimis yang ku punya aku
berharap mencipta riuh gelombang di hamparan samudranya, arungi badai bersama,
hingga kita menemukan dermaga.
Mana mungkin
kita bisa bersama? Kita berbeda, aku hanya gerimis dan kau samudra. Tetapi
Tuan, kau perlu tahu jika aku mencintaimu meski aku mulai berjalan menjauh. Menjauh
adalah satu-satunya jalan agar aku tak bisa menyakiti dan melukaimu. Percayalah
Tuan, Aku masih cemburu pada kapal dan perahu yang bebas mengarungi samudramu. Aku cemburu pada karang
yang selalu ada didekatmu. Aku cemburu pada angin yang tak henti meliuk-liuk di
atasmu.
Aku tetap mencinta sekalipun kau dengannya. Aku tetap menjadi rintikan gerimis
yang akan membantumu mencipta indahnya gelombang di samudra. Aku tetap bersamamu sekalipun aku tak ada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar