Selasa, 08 Januari 2019

Kasih Tak Sampai


Ter-untukmu,
Kasih tak sampai


Selamat ulangtahun, semoga apapun yang kamu semogakan segera diwujudkan, dilancarkan segala urusan dan dimudahkan apapun yang sedang dikerjakan. Tetap tersenyum renyah meskipun ulangtahun kali ini tanpa papa. Hidup memang selalu begitu, dari tahun ke tahun betapa banyak orang yang dulunya hadir menikmati ulangtahun bersama kita, bercanda tawa, saling berjabat tangan dengan membagikan doa baik, disadari atau tidak, satu persatu mulai pergi memenuhi janji kehidupannya, menunggu kita dipertemuan kedua. Kehilangan seseorang memang menyakitkan, aku tidak tahu bagaimana keadaanmu saat ini, tetapi aku berharap kamu masih bisa tersenyum manis, semanis senyummu sebelas tahun silam:)

Ingatan-ingatan tentang 11 tahun lalu hingga bagian-bagian terkecilpun,  aku masih sangat ingat.  Apa kamu ingat juga? betapa saat itu aku masih sangat kekanak-kanakan. Gadis desa yang baru duduk di kelas 5 SD tetapi berani menyukai laki-laki sesempurna kamu. Betapa saat itu aku pertama kalinya merasakan susah makan dan susah tidur, disaat yang bersamaan aku benar-benar menyadari jika aku telah mengenal cinta untuk pertama kalinya.

Aku yang merasa sangat kegirangan tiap kali berpapasan denganmu, aku yang selalu merasa gugup tiap kali kamu melihatku bertanding voli, aku yang selalu merasa deg-degan tiap kali kamu menjadi danton saat upacara, aku yang selalu curi-curi pandang sengaja melihat kamu dari kejauhan. Aku yang tiba-tiba iseng telfon kamu lewat telfon rumah,  Saat kamu bilang "hallo" aku langsung mematikan telfonnya.  Kenapa?  Karena sekedar mendengar suaramu, aku sudah sangat bahagia.  

Aku kira ini hanya sekedar cinta monyet belaka, tapi saat kita memasukki SMP yang berbeda, aku merasa seperti ada yang hilang. Tanpa kamu sadari, aku masih sering melihatmu dari balik jendela rumahku ketika kamu sedang menunggu angkutan umum untuk berangkat ke sekolah. Kita tak pernah saling menyapa dan berbincang bersama, pun kamu juga tidak pernah tahu bahwa bertahun-tahun aku menyukaimu. Hingga pada suatu hari, aku mendapat kabar kamu telah memiliki seorang kekasih. Aku turut bahagia untuk itu.  

Bertahun-tahun berlalu, ada perasaan senang dalam hatiku saat mendapat kabar kamu bersekolah di SMA yang letaknya berdekatan dengan sekolahku. Dan kamu tahu?  Tempat yang paling aku suka kala itu adalah digerbang sekolah, karena disanalah tempat dimana aku bisa melihat kamu melewati sekolahku meskipun saat kamu melihatku, kita seperti orang asing yang tak pernah saling berkata-kata.

11 tahun kamu tak pernah mengenalku, tapi setiap kali aku melihat fotomu tiap kali itu juga aku jatuh cinta lagi dan lagi. Ketulusan cintamu pada kekasihmu membuatku belajar mengikhlaskan. Menyukaimu sekian lama memang membuatku terlatih patah hati. Kadang aku heran, apakah cinta memang selalu segila ini? Dan aku, adalah orang keras kepala yang rela pasang badan untuk menerima sakit yang berdatangan setiap kali melihatmu bersama perempuan barumu.

Tidak apa-apa,  bukankah cinta tidak harus memiliki? 11 tahun aku sudah terbiasa menikmati jatuh cinta sendirian. Hingga aku tersadar bahwa aku harus "berhenti" .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Merajut Hujan Tanpa Pelangi

Tak ada yang lebih getir dari melukis hujan yang bersaing dengan petir untuk merebut takdir.   Pelangi yang di nanti juga tak kunjung hadi...