Tak ada
yang lebih getir dari melukis hujan yang bersaing dengan petir untuk merebut takdir.
Pelangi yang di nanti juga tak kunjung
hadir, yang ada hanya senja yang nampak malu-malu di balik gelapnya mendung di
angkasa seolah menyiratkan semburat indah warna jingganya. Dan seiring
kepergian senja, rindu ini kembali mengoyak dada. Rindu yang selalu ku titipkan
di sela-sela hujan, tapi tak pernah tersampaikan hingga rindu itu tenggelam
bersama genangan.
Dalam gigil,
namamu masih ku panggil. Adakah disana kau ingat aku juga? Lalu rasakan desau
angin yang hilang bersama rahasia, hingga awan di angkasa dan sukma mentari nyaris tenggelam tapi
kau tetap saja diam seolah bagimu hujan tak berarti apa-apa, kecuali hanya
basah. Sedang senyummu masih membuatku jatuh, tanpa perlu tersandung terlebih
dahulu.
Aneh, aku
selalu terlena pada hujan dan aromanya, lalu ingin berteduh pada sepasang
matamu yang indah itu, lebih-lebih bisa menyelinap di hatimu dan mengukir sajak
lirih meski tak seindah syair Jalaludin Rumi. Kau ingin mendengar laguku? Petiklah
hujan, dan rasakan senandung merdu yang hanya bisa didengar oleh mereka yang sedang merindu.
Cintaku setabah
hujan di malam ini, hujan dibulan Januari. Yang jatuh meski tak menjanjikan
pelangi. Kadang aku iri pada rembulan yang selalu kau rindu meski ia dalam keadaan
penuh atau separuh.
Hujan pasti akan berhenti. Pun dengan rasa ini, harapku
juga akan mati. Kau tak bisa ku dapat maka aku harus berhenti berharap.
Dan kau hanya akan jadi kenangan paling keras kepala yang bertahun-tahun
terkebiri dalam hati dengan kadar paling tinggi tanpa tertandingi.


