Siang ini terasa
panas sekali, apakah karena Terik murka pada Bumi? Matahari memang tak pernah punya
nyali untuk mengatakan bahwa ia mencintai Bumi sebab Bumi terlanjur menyayangi Bulan
yang lebih anggun dan menawan. Sedang tanpa disadari, Matahari lah yang menjadikan
Bulan cantik nan bersinar. Meski Matahari begitu mencintai Bumi, tapi ia selalu
mengerti bahwa mendekat dengan Bumi justru membinasakan. Ia memilih menerangi
dari kejauhan hingga Tuhan menyuruhnya untuk padam maka ia pun akan mati
bersama Bumi.
Ah
sudalah, pikiranku mulai kemana-mana ternyata.
Tanpa berpikir
lagi, aku mulai bergegas mengisi air
dalam gelas untuk mengobati dehidrasi yang ku alami. Ku minum sebagiannya dan sebagian lagi tetap tersisa
dalam gelas, mula-mula ku perhatikan dengan sangat jelas, kemudian aku mulai berpikir
keras. Dan yaa, beberapa pertanyaan mulai menyelinap di otakku yang bodoh ini. Sebenarnya
aku tak mengerti harus mengartikan ini sebagai gelas yang setengah kosong atau sengah terisi?
Tapi sebetulnya sama
benarnya. Tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya. Memang disebut setengah
terisi karena gelas itu asumsi umumnya adalah wadah air, maka fokus kita akan
mengarah ke air, benar sekali air dalam gelas tersebut memang setengah isinya,
dan setengahnya lagi di isi oleh udara. Lalu aku mulai tersadar, ternyata selama
ini aku menganggapnya sebagi setengah kosong karena aku fokus terhadap yang
tidak ada yaitu udara, aku terlalu fokus
pada kosongnya. Bukan elemen lainnya yang ada.
Pun dengan perasaan, bertahun-tahun aku terlalu fokus pada apa yang aku kejar. Tanpa
peduli perasaan-perasaan lain yang sedang mengejar. Aku hanya berambisi pada
satu orang yang tak pernah bisa ku miliki, aku selalu menutup hatiku
rapat-rapat untuk seseorang yang ingin mendekat. Aku lupa bagaimana cara
beralih dari masa lalu yang terus menghantu. Aku terlalu munafik untuk mengaku
bahwa aku tak siap terluka oleh orang baru.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar