Minggu, 13 Januari 2019

Tanpa Tergesa


Siang ini terasa panas sekali, apakah karena Terik murka pada Bumi? Matahari memang tak pernah punya nyali untuk mengatakan bahwa ia mencintai Bumi sebab Bumi terlanjur menyayangi Bulan yang lebih anggun dan menawan. Sedang tanpa disadari, Matahari lah yang menjadikan Bulan cantik nan bersinar. Meski Matahari begitu mencintai Bumi, tapi ia selalu mengerti bahwa mendekat dengan Bumi justru membinasakan. Ia memilih menerangi dari kejauhan hingga Tuhan menyuruhnya untuk padam maka ia pun akan mati bersama Bumi.

 Ah sudalah, pikiranku mulai kemana-mana ternyata.

Tanpa berpikir lagi,  aku mulai bergegas mengisi air dalam gelas untuk mengobati dehidrasi yang ku alami. Ku  minum sebagiannya dan sebagian lagi tetap tersisa dalam gelas, mula-mula ku perhatikan dengan sangat jelas, kemudian aku mulai berpikir keras. Dan yaa, beberapa pertanyaan mulai menyelinap di otakku yang bodoh ini. Sebenarnya aku tak mengerti harus mengartikan ini sebagai gelas yang  setengah kosong atau sengah terisi?

Tapi sebetulnya sama benarnya. Tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya. Memang disebut setengah terisi karena gelas itu asumsi umumnya adalah wadah air, maka fokus kita akan mengarah ke air, benar sekali air dalam gelas tersebut memang setengah isinya, dan setengahnya lagi di isi oleh udara. Lalu aku mulai tersadar, ternyata selama ini aku menganggapnya sebagi setengah kosong karena aku fokus terhadap yang tidak ada  yaitu udara, aku terlalu fokus pada kosongnya. Bukan elemen lainnya yang ada. 

Pun dengan perasaan, bertahun-tahun aku terlalu fokus pada apa yang aku kejar. Tanpa peduli perasaan-perasaan lain yang sedang mengejar. Aku hanya berambisi pada satu orang yang tak pernah bisa ku miliki, aku selalu menutup hatiku rapat-rapat untuk seseorang yang ingin mendekat. Aku lupa bagaimana cara beralih dari masa lalu yang terus menghantu. Aku terlalu munafik untuk mengaku bahwa aku tak siap terluka oleh orang baru. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Merajut Hujan Tanpa Pelangi

Tak ada yang lebih getir dari melukis hujan yang bersaing dengan petir untuk merebut takdir.   Pelangi yang di nanti juga tak kunjung hadi...